Rabu, 23 Desember 2009
Selasa, 22 Desember 2009
Pendahuluan
Keluarga sebagai salah satu miniatur masyarakat dalam skrup terkecil kehidupan umat manusia, memiliki peranan sangat penting dan berharga dalam membantu kelanjutan pendidikan dan pengembangan sumberdaya individu yang ada dalam dunia ini. Akan tetapi semua itu tidak terlepas dari berbagai rintangan dan hambatan yang terjadi dalam keluarga itu sendiri, karena keluarga pun pada dasarnya adalah sekelompok individu-individu yang terpisah yang disatukan oleh ikatan hubungan keluarga(suami-istri) yang menghasilkan individu-individu baru yang disebut anak, cucu dan lain sebagainya.
Dalam perkembangannya, keluarga memiliki peranan dan fungsi yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena keluarga adalah pendidikan dasar di mana anak yang akan menjadi bagian dari masyarkat, lahir, dibesarkan serta didik dengan gaya dan metode pendidikan keluarga itu sendiri.
Penulis dalam makalah ini mencoba untuk menyajikan beberapa study kasus dalam perkembangan fungsi dan peranan keluarga yang dinilai cukup penting untuk diperhatikan mengingat banyaknya masaalah-masalah dan kasus yang dialami oleh remaja akhir-akhir ini pada dasarnya tidak lain karena melemahnya fungsi keluarga dalam pranata sosial. Semoga study kasus dari kejadian tawuran SMK Negeri 8 Jakarta ini dapat dijadikan acuan bagi penulis khususnya dan kepada pembaca umumnya.
BAB II
II.I Pengertian Keluarga dan Fungsi-Fungsinya.
2.I. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit/satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Kelompok ini dalam hubungannya dengan individu sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat.
Keluarga sebagai kelompok pertama yang dikenal individu sangat berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan individu sebelum maupun sesudah terjun langsung secara individual dalam masyarakat.
2.II. Fungsi- Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan di dalam atau oleh keluarga itu.
2.III. MACAM-MACAM FUNGSI KELUARGA
a) Fungsi Biologis
Dengan fungsi ini diharapkan agar keluarga dapat menyelenggarakan persiapan-persiapan perkawinan bagi anak-anaknya. Persiapan perkawinan yang perlu dilakukan oleh orang-orang tua bagi anak-anaknya dapat berbentuk antara lain pengetahuan tantang kehidupan sex bagi suami istri, pengetahuan mengatur rumah tangga bagi sang istri, tugas dan kewajiban bagi suami, memelihara pendidikan bagi anaak-anak dan lain-lain.
Dengan persiapan deperti ini dapat terbentuk keluarga yang harmonis dan berpengaruh baik bagi kehidupan bermasyarakat.
Contoh: Sebelum Sang anak menikah, dengan fungsi biologisnya, keluarga diharapkan dapat memberikan pendidikan kekeluargaan yang matang untuk membina rumah tangga dalam berbagai hal. Seperti dalam pendidikan ekonomi keluarga, sosial keluarga, hubungan suami istri dan lain- lain.
b) Fungsi Pemeliaharaan
Keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggotanya terlindung dari gangguan-gangguan sebagai berikut :
1) gangguan udara dengan berusaha menyediakan rumah;
2) gangguan penyakit dengan menyediakan obat-obatan;
3) gangguan bahaya dengan berusaha menyediakan senjata, pagar tembok dan lain-lain.
Contoh: Sebagai benteng pertahanan keluarga harus mampu melindungi anggotanya, dalam hal ini sang bapak sebagai kepala keluarga harus mampu mejaga dan membekali anggota keluarganya dengan berbagai macam persiapan dan fasilitas agar seluruh anggota keluarga tetap aman terjaga. Dengan cara, memberikan perlindungan dengan membekali pendidikan anti bahaya ( seni bela diri) atau menyediakan pelayanan seperti antar jemput bagi anak perempuan dan berbagai contoh perlindungan lainnya.
c) Fungsi Ekonomi
Keluarga barusaha menyelenggarakan kebutuhan manusia yang pokok yaitu :
1) Kebutuhan makan dan minum
2) Kebutuhan pakaian untuk menutup tubuhnya
3) Kebutuhan tempat tinggal.
Contoh; Sang bapak menafkahi anggota keluarganya atau memberikan uang jajan kepada anak-anaknya serta memeberikan uang belanja bagi ibu rumah tangganya.
d) Fungsi Keagamaan
Dengan dasar pedoman ini keluarga diwajibkan untuk menjalani dan mendalami serta mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam pelakunya sebagai manusia yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Contoh: Orang tua memberikan dan mengajarkan pendidikan agama yang baik kepada anak-anaknya dengan mengajari agama di rumah atau mengantarkan mereka ketempat keagamaan.
e) Fungsi Sosial
Dengan fungsi ini keluarga berusaha untuk mempersiapkan anak-anaknya bekal-bekal selengkapnya dengan memperkenalkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan-peranan yang diharapkan akan mereka jalankan kelak bila sudah dewasa yag disebut sosialisasi. Dalam fungsi ini juga harus ada pewarisan kebudayaan dan nilai-nilainya, misalnya : sopan santun, bahasa, cara bertingkah laku, ukuran tentang baik buruknya perbuatan dan lain-lain. Dengan melalui nasihat dan larangan, orang tua menyampaikan norma-norma hidup tertentu dalam bertingkah laku.
Dalam buku Ilmu Sosial Dasar karangan Drs. Soewaryo Wangsanegara dikatakan bahwa fungsi-fungsi keluarga meliputi :
a) Pembentukkan kepribadian; dalam lingkungan keluarga, para orang tua meletakkan dasar-dasar kepribadiankepada anak-anaknya, dengan tujuan untuk memproduksikan serta melestarikan kepribadian mereka kepada anak cucu dan keturunannya.
b) Erat kaitannya dengan butir, keluarga juga berfungsi sebagai alat reproduksi kepribadian-kepribadian yang berakar dari etika, estetika, moral, keagamaan, dan kebudayaan yang berkorelasi fungsional dengan sebuah struktur masyarakat tertentu.
c) Keluarga merupakan eksponen dari kebudayaan masyarakat, karena menempati posisi kunci. Keluarga adalah sebagai jenjang dan perantara pertama dalam transmisi kebudayaan.
d) Keluarga berfungsi sebagai lembaga perkumpulan perekonomian. Pada kelompok-keliompok masyarakat modern perkonomian berkembang sangat pesat. Namun ikatan-ikatan kekeluargaan masih terjalin kuat dan sering memengaruhi atau menguasai bidang perekonomian mereka.
e) Keluarga berfungsi sebagai pusat pengasuhan dan pendidikan.
F) Fungsi Institusi
Keluarga sebagai salah satu institusi pendidikan non formal, memiliki berbagai macam peranan yang seharusnya bisa dioptimalkan untuk pengembangan individu. Adapun pengertian fungsi keluarga sebagai institusi adalah: keluarga sebagai lembaga non formal di luar sekolah mampu menjadi pengganti pendidkan formal bagi anak atau individu-individu, sekaligus sebagai pembantu proses pembentukan pendidikan anak di luar sekolah.
Abdul Wahab Khallaf juga menyampaikan bahwa Keluarga adalah sebuah institusi yang minimal memiliki 6 fungsi, yaitu;
1. Fungsi religius, adalah peran keluarga yang dapat memberikan pengalaman keagamaan bagi anggotanya.
2. Fungsi afektif, peran keluarga dalam memberikan kasih sayang dan melahirkan keturunan.
3. Fungsi sosial, adalah keluarga dapat memberikan prestis dan status kepada semua anggotanya.
4. Fungsi edukatif, adalah peran keluarga sebagai media belajar bagi anggota keluarga.
5. Fungsi protektif adalah peran keluarga sebagai pelindung bagi anggotanya dari ancaman fisik, ekonomis, dan psiko-sosial.
6. Fungsi rekreatif adalah bagaimana menjadikan keluarga sebagai wahana yang menyenangkan bagi anggotanya.
2.IV. Melemahnya Fungsi Dan Peranan Keluarga Sebagai Kontrol Terhadap Pergaulan Anak
( Study Kasus Tawuran SMK Negeri 8 Jakarta)
Dewasa ini, anak-anak sebagai individu penerus bangsa memiliki peranan yang dinilai cukup penting mengingat generasi mudalah yang nanti akan meneruskan kehidupan dan masa depan bangsa ini.anak-anak yang tumbuh dari keluarga seharusnya bisa memberikan kontribusi yang luar biasa dengan dunia mereka, baik itu dari dunia pendidikan formal(sekolah) ataupun dunia pendidikan informal (Keluarga). Akan tetapi secara mendasar, keluarga sebagai control tools (alat control) terhadap perkembangan anak bisa berkontribusi lebih besar lagi kepada perkembangan individu atau anak-anak. Hal ini dikarenakan kehidupan individu atau anak lebih banyak dihabiskan dikeluarga mereka dibandingkan di dunia pendidikan formal mereka (sekolah).
Namun, pada kenyataannya sekolah sebagai lingkungan kedua bagi individu atau anak-anak justru berdampak dan memberikan pengaruh yang cukup besar kepada individu atau anak setelah kehidupan keluarga dan sosial mereka ( Masyarakat).pada bab ini ,penulis akan mencoba memaparkan apa sebenarnya yang menyebabkan melemahnya peranan dan fungsi keluarga bagi individu atau anak dalam pranata masyarakat luas.
2. V. Pengaruh Lingkungan dan sekolah Terhadap Anak
Lingkungan yang menjadi tempat bermain anak-anak memberikan dampak yang cukup luas dan besar bagi perkembangan watak anak-anak, karena dari lingkungan lah anak dapat melihat kedaan yang lebih luas dan lebih besar dari pada keluarganya. Bila dirumah ( keluarga) sang anak hanya berjumpa dan bergaul dengan anggota keluarganya (ayah,ibu,kakak atau adik) maka di lingkungan tempat ia bermain sang anak akan bersosialisasi dengan individu-individu yang lebih banyak dan beraneka ragam sifatnya. Hal ini akan memberikan aspek sense (rasa) yang berbeda kepada sang anak. Bila dirumah sang anak harus bergaul dengan sopan dengan anggotanya maka diluar justru sang anak akan bersosialisasi dengan gayanya sendiri tanpa ada control dari keluarganya, maka dalam hal ini sang anak harus mampu mengontrol dirinya dan menjadikan apa yang telah diajarkan keluarganya sebagai kontrol sosial.
Sekolah yang mejadi institusi pendidikan formal bagi anak juga memiliki peranan yang sama penting setelah keluarga. Karena dengan apa yang mereka dapat dari sekolah lah sang anak mampu menjadikan dirinya control ketika bersosialisasi dengan masyarakat yang lebih luas.
Dalam study kasus terhadap kejadian tawuran di SMK NEGERI 8 Jakarta seharusnya kita dapat melihat apa yang sebenarnya menjadi pemicu kejadian tawuran tersebut. Apakah melemahnya fungsi keluarga berada di belakangnya atau tidak?. Sekolah yang seharusnya memberikan pendidikan yang formalpun terkadang tidak mampu memberikan kontrol maksimal terhadap pergaulan anak. Karena tidak jarang kita temui banyak anak-anak sekolah pada masa ini yang malah membuat kenakalan di dalam sekolah mereka sendiri. Apa sebenarnya yang terjadi terhadap pendidikan formal tidak lain disebabkan karena sistem pendidikan yang terlalu mengekang hak anak yang seharusnya ia dapatkan lewat pendidikan formalnya.
2.VI. Analisis Kasus Tawuran SMK NEGERI 8 Jakarta.
Kenakalan remaja merupakan tantangan yang harus bisa diselesaikan oleh keluarga sebagai alat kontrol pribadi anak dan juga sekolah yang merupakan kontrol sosial. Kasus tawuran yang terjadi di SMK NEGERI 8 Jakarta merupakan salah satu bukti bahwa terkadang keluarga dan sekolah tak mampu berperan banyak dalam pembentukan watak anak karena terhambat oleh pergaulan sosial atau lingkungan. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh keluarga dan sekolah dalam menyikapi hal ini?.
Tawuran antara Pelajar SMK Negeri 8 Jakarta dengan pelajar lainnya bisa kita jadikan telah kepada sistem pendidikan keluarga dan sekolah sebagai pembentukan watak dan pribadi anak terhadap lingkungannya.
Dalam perkara tawuran SMK Negeri 8 Jakarta, anak-anak yang bertikai dalam tawuran, secara pribadi di dorong oleh kemauan komulatif dari kelompok tempat mereka bergaul dan bermain. Karena dari kelompok atau yang lebih dikenal dengan “genk” inilah mereka mendapatkan satu dunia baru yang mungkin mereka rasa nyaman dan hebat walaupun tidak sesuai dengan kemauan mereka sendiri. Hal ini pun di dorong karena adanya ketidak seriusan dari keluarga dan sekolah dalam memberikan pendidikan yang baik dan bagus kepada anak-anak didiknya. Mari kita telaah bersama petikan berita yang disajikan oleh liputan 6 SCTV di media mayanya :
“Perkelahian yang melibatkan pelajar SMK PGRI 8 bukan kasus baru. Padahal, tawuran mereka telah banyak menelan korban luka. Bahkan rekan mereka, Abdillah, sempat koma dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit setelah sebutir peluru bersarang di kepalanya. Peristiwa itu terjadi di daerah Jatinegara, Jaktim, beberapa waktu silam [baca: Abdillah Tersungkur Diterjang Peluru]. Insiden penembakan terjadi saat berlangsung tawuran antara siswa SMK PGRI 8 Jaktim dan sekelompok pelajar dari sekolah lain. Sayangnya, sampai saat ini, belum diketahui pasti asal peluru yang bersarang di kepala Abdillah.”
Dari petikan berita di atas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa sesungguhnya apa yang terjadi terhadap generasi muda kita sekarang ini tidak lain dan tidak bukan hanya karena lemahnya kontrol dan fungsi keluarga serta sekolah dalam memberikan pendidikan terhadap individu-individu bangsa. Hal ini pun mengakibatkan kejadian semacam tawuran tersebut berulang kali terjadi di dunia anak-anak.
Maka dari itu dari permasalahan-permasalahan yang ada sudah selayaknya kita semua sebagai pelaku prana sosial kembali mengontrol dan meluruskan peranan dan fungsi keluarga dalam pembentukan watak dan pribadi anak bangsa.
BAB III
III.I Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dari makalah ini maka penulis memeberikan beberapa catatan yang mungkin dianggap bermanfaat bagi para keluarga dan pendidik yang bisa dijadikan bahan pertimbangan.
Keluarga sebagai wadah pembentukan watak dan pribadi individu-individu harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan benar agar tidak terjadi ketimpangan di masa-masa selanjutnya:
1. Peningkatan fungsi-fungsi keluarga yang penting bagi individu- individu seperti Fungsi Keagaman: Keluarag harus mampu menekankan kepada anak-anaknya agar sadar betul akan pentingnya agama bagi kehidupan bermasyarakat guna terciptanya kehidupan yang harmonis
2. Peningkatan Fungsi Pemeliharaan: Keluarga Harus mampu menekankan dan memberikan arahan yang baik kepada anak-naknya tentang hal-hal yang dianggap merugikan atau tidak serta menjaga dan memberikan perlindungan kepada mereka dari hal-hal yang membahayakan mereka. Bila si individu tetap terjangkit penyakit lingkungan atau sekolah yang mempengaruhinya, maka keluarga harus mampu bersikap representatif kepada anak-anaknya dengan alasan untuk mempertahankan dan menjaga keamanan dan menciptakan kebaikan bagi mereka.
3. Peningkatan fungsi sosial: Keluarga mampu memberikan kontrol yang besar kepada anak-anaknya dalam pergaulan sehari-hari, menjaga si individu agar terjauhkan dari prana masyarakat yang kurang baik dan dapat memperkeruh watak mereka.
4. Peningkatan Fungsi Institusi: adapun peningkatan fungsi ini dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan fungsi-fungsi lainnya.
5. Peningkatan Fungsi Ekonomi: Keluarga mampu memberikan pelayanan secara baik kepada anak-anaknya mengenai kebutuhan-kebutuhan yang harus mereka dapatkan sebagai anak. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi maka sudah selayaknya keluarga dapat memberikan pengertian-pengertian dan arahan-arahan yang dapat membuat mereka mengerti keadaan apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga.
6. Peningkatan fungsi biologis : Keluarga mampu memberikan penekanan kepada anak-anaknya bahwa apa yang mereka jalani dalam kehidupan merupakan awal dari kehidupan mereka selanjutnya ketika mereka berkeluarga nanti, maka dari itu dengan hal ini sang anak diharapkan mampu mengarahkan dirinya kepada arah yang lebih baik.
Di akhir makalah ini penulis mengharapkan apa yang telah disampaikan berguna dan bermanfaat bagi penulis khusunya dan para pembaca umunya. Semoga keluarga tetap mampu meberikan peranan yang baik dalam pendidikan anak-anak di masa kini.
Kurang dan lebihnya penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya
Sabtu, 02 Mei 2009
KOMPAK anti kekerasan
| W |
acana kekerasan sudah ada sejak kematian manusia pertama Habil, merentas jauh ke zaman posmodernisme sekarang ini.
Kekerasan bukan sekedar persoalan ada yang tersakiti, terluka atau mati. Tapi masalah perilaku “barbar” yang akan mewarisi generasi ke generasi, masalah moralitas yang sekarat, masalah hak asasi manusia yang terpasung, dan masalah masa depan suatu bangsa yang tidak akan pernah sampai kepada cita-cita demokrasi, kemakmuran, kebaikan dan kebahagiaan jika kekerasan dijadikan alat untuk mencapai tujuan.
KOMPAK lahir untuk menjadi agen perlawanan bagi segala bentuk kekerasan baik kekerasan struktural yang dilakukan oleh negara; (penguasa vs rakyat) maupun kekerasan personal (rakyat vs rakyat) yang akhir-akhir ini di Indonesia mengalami eskalasi, terutama yang memanfaatkan isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). KOMPAK mencoba mengisi ruang kosong yang belum tergarap secara maksimal oleh gerakan mahasiswa secara keseluruhan yaitu masalah kekerasan.
KOMPAK bukanlah gerakan politik, tetapi mendukung dan memperjuangkan politik anti kekerasan. Bukan pula gerakan massa tetapi mampu menggerakan dan mendukung gerakan massa untuk mengkampanyekan anti kekerasan.
KOMPAK adalah lembaga independen, namun dapat bekerja sama dengan siapa saja untuk memerangi kekerasan. KOMPAK bukan hanya organisasi yang bekerja dibalik meja dan hanya melibatkan sedikit orang. KOMPAK lebih sebagai lembaga pergerakan mahasiswa dan berbasis di kampus dengan melakukan tugas-tugas investigasi, pengusutan dan penyelidikan tindak kekerasan, advokasi (mendampingi korban tindak kekerasan, mengkampayekan anti kekerasan lewat demonstrasi, media cetak, elektronik, penyebaran famlet, stiker, news letter, spanduk dan melakukan studi baik berbentuk dialog, seminar, pementasan seni yang berhubungan dengan wacana anti kekerasan.
KOMPAK adalah gerakan kemanusiaan yang akan terus menerus memerangi praktik kekerasan dengan segala bentuknya sampai orang tidak pernah melakukan bahkan mengingat lagi kata-kata kekerasan. Komite Mahasiswa Pemuda Anti Kekerasan (KOMPAK) berdiri pada tanggal 28 Oktober 1998 di Ciputat, KOMPAK lahir dari sebuah keperihatinan yang mendalam terhadap praktik-praktik kekerasan yang terus terjadi di Indonesia bahkan cenderung mengalami eskalasi tanpa mampu diselesaikan baik lewat jalur hukum maupun politik.
Tentang ANSOS I
![]()
Kegiatan ini merupakan pendidikan alternatif yang dilaksanakan oleh Komite Mahasiswa Pemuda Anti Kekerasan (KOMPAK). Program ini diprioritaskan kepada mahasiswa dan pemuda sebagai pengenalan terhadap berbagai wacana maupun fenomena sosial-politik melalui dimensi humanistik.
Peserta ANSOS I Komite Mahasiswa dan Pemuda Anti Kekerasan telah resmi menjadi Anggota KOMPAK, setelah mengikuti semua materi pelatihan ini.
Pendidikan ini akan mengarahkan kawan-kawan kepada pemahaman yang menyeluruh tentang Kekerasan, HAM, Sosial Politik Indonesia, dan Gerakan Mahasiswa. Karena itu, sangat penting bagi mahasiswa yang ingin mendalami dan terlibat banyak dalam kanca organisasi kampus.
Tidak hanya akademis intelektual yang dibangun, tapi aplikasi gerakan tersebut dalam realitas menjadi kebutuhan yang tak dapat dipisahkan.
…………….……….…..Materi…………

Formulir Pendaftaran Pelatihan Analisa Sosial I (Komite Mahasiswa Pemuda Anti Kekerasan) Nama Lengkap : ……………………………………………………………………………… Panggilan : ……………………………………………………………………………… T T L : ……………………………………………………………………………… Alamat : ……………………………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………………………… Telp/hp …………………………………………/…………………………………………….. Pendidikan Pengalaman Organisasi 1. ………………………………………………………………………………………………………………………… 2. ………………………………………………………………………………………………………………………… 3. ………………………………………………………………………………………………………………………… Alasan Mengikuti Pelatihan 1. ………………………………………………………………………………………………………………………… 2. ………………………………………………………………………………………………………………………… 3. ………………………………………………………………………………………………………………………… Jakarta, Mei ‘09 (……………………………………………….)

![]()

arti pramuka
Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan di
Meluruskan Pengertian ‘Pramuka’
Adanya ketidaksesuaian antara data yang dilaporkan dengan kenyataan yang ada ditengarai karena adanya kesalahan persepsi mengenai pengertian Pramuka atau anggota Gerakan Pramuka. Menurut Baden Powell seseorang dapat dikatakan sebagai anggota suatu gerakan kepanduan (kepramukaan) apabila ia telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat itu ialah berupa syarat kecakapan umum (SKU). Untuk itulah apabila seorang anak atau remaja ingin diakui keberadaannya dalam suatu ikatan sepersaudaraan bakti pada satuan Gerakan Pramuka ia harus berusaha untuk lulus ujian SKU sesuai dengan golongan usianya. Bahkan sebelum ia lulus ujian SKU dan dilantik ia belum boleh mengenakan atribut pakaian seragam secara lengkap, yaitu mengenakan setangan leher atau pita leher, topi dan tanda pelantikan.
Berdasarkan pemahaman di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seorang anak atau remaja/pemuda yang mengikuti pendidikan kepramukaan belum tentu dapat dikatakan sebagai Pramuka atau anggota Gerakan Pramuka. Untuk menjadi Pramuka sebenarnya tidaklah sekedar mengenakan pakaian seragam coklat muda-coklat tua, melainkan memerlukan persyaratan tertentu.
Kurangnya pemahaman terhadap pengertian Pramuka atau anggota Gerakan Pramuka itulah yang kiranya menyebabkan terjadinya data yang bias. Karena kenyataan¬nya pada jenjang pendidikan menengah dan jenjang pendidikan tinggi pendidik-an kepramukaan mengalami kemunduran jumlah anggota.
Memang untuk jenjang pendidikan dasar, lebih khusus lagi Sekolah Dasar, pada hampir semua sekolah merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh siswa. Maka jumlah anggota Gerakan Pramuka sebesar lebih 22 juta orang itu akan dapat dimengerti apabila keseluruhan jumlah siswa SD kelas 4, 5 dan 6 diakui menjadi anggota Gerakan Pramuka ditambah siswa SMP dan sekolah menengah serta mahasiswa yang memang terdaftar sebagai anggota Gerakan Pramuka. Untuk itulah kiranya perlu diteliti kembali apakah jumlah anggota Gerakan Pramuka sebesar itu benar-benar mencerminkan keadaan yang senyatanya.
Kembali pada persoalan semula, yaitu mengenai gejala pendidikan kepramu¬kaan semakin dijauhi oleh para remaja. Menurut pengamatan penulis gejala ini akan jelas menampak pada sekolah yang mengambil kebijakan untuk tidak mewajibkan siswanya mengikuti pendidikan kepramukaan, artinya siswa diberi kebebasan memilih kegiatan ekstra kurikuler sesuai dengan minatnya. Pada umumnya sekolah yang mengambil kebijakan seperti itu adalah SMP dan sekolah menengah.
Ada beberapa faktor yang dapat ditemukenali sebagai penyebab kurangnya minat siswa untuk mengikuti pendidikan kepramukaan. Adapun beberapa faktor itu adalah bahwa pendidikan kepramukaan dianggap telah ketinggalan jaman, merosotnya mutu proses pendidikan kepramukaan dan rendahnya jumlah Pembina yang berkualitas.
Ketinggalan Jaman
Pada tahap perkembangan ilmu dan teknologi serta arus informasi yang demi¬kian pesat dewasa ini, seakan pendidikan kepramukaan tetap saja berjalan di tempat. Berbagai materi dan metode yang dikenalkan hampir lebih sepuluh tahun yang lalu sampai saat ini masih disampaikan kepada para peserta didik tanpa mengalami pemba¬haruan. Para Pembina Pramuka dan Pelatih Pembina Pramuka terlalu berpegang pada pakem yang ada, seakan tidak peduli terhadap kemajuan di sekilingnya.
Memang prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan senantiasa harus dipegang teguh dalam proses pendidikan kepramukaan, karena hal itu merupakan ciri utama yang membedakan antara pendidikan kepramukaan dengan bentuk pendidikan lainnya. Namun materi yang diberikan serta metode pembelajarannya harus selalu dikembangkan mengikuti perkembangan jaman.
Kemampuan mengembangkan materi serta metode pembelajaran itulah yang saat ini miskin dikuasai oleh para Pembina Pramuka. Kebanyakan dari mereka dalam proses latihan rutin dari tahun ke tahun selalu hanya mengandalkan buku rujukan Kursus Pembina Mahir Dasar atau Lanjutan.
Untuk itulah pada kurikulum Kursus Pembina Mahir Dasar dan Kursus Pembi¬na Mahir Lanjutan perlu dicantumkan pokok bahasan tentang inovasi teknologi pendidikan kepramukaan, yaitu suatu pokok bahasan yang memberikan bekal pada Pembina Pramuka agar mampu melakukan pembaharuan di bidang materi dan metode pembela-jaran untuk dapat menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Konteks menyesuaikan jaman artinya adalah melakukan pembaharuan pendidik-an kepramukaan sesuai dengan minat dan kebutuhan perkembangan anak dan remaja pada jaman dimana ia hidup.
Berkaitan dengan hal itu, maka akan dapat kita kaji kembali: sejauhmana keterkaitan keterampilan semaphore, morse, dan tali temali pada pendidikan kepramukaan dalam era globalisasi informasi serta teknologi canggih dewasa ini? Memang pada era Baden Powell, awal abad ini, semaphore dan morse merupakan alat yang ampuh dalam melakukan komunikasi jarak jauh dan tali temali merupakan keterampilan utama yang diperlukan dalam melakukan pionering.
Fakta lain menunjukkan bahwa pada perkembangan dewasa ini pendidikan kepramukaan jauh kalah populer dibanding dengan kelompok pecinta alam. Perkembangan kegiatan kelompok pecinta alam sudah sedemikian pesatnya sehingga muncul aktivitas yang menarik bagi remaja seperti panjat tebing, caving, dan mountainering. Pada perkembangan yang sama sebagian besar satuan Gerakan Pramuka masih melakukan kegiatan alam terbuka dengan acara mencari jejak, permainan berbagai macam sandi, wide game yang dipandang oleh remaja terlalu monoton dan sudah kuno. Padahal sejarah pertum-buhan Gerakan Pramuka di Indonesia lebih tua dibanding dengan kelompok pecinta alam. Mengapa hal itu bisa terjadi? Padahal sebagian besar aktivitas pendidikan kepramukaan adalah di alam terbuka serta diikuti usaha mengenal dan menanamkan rasa mencintai alam. Keadaan ini tidak akan terjadi manakala Pembina mampu mengembangkan dan mengemas kegiatan sesuai dengan minat anak dan remaja sesuai dengan jamannya, bukan jamannya Kakak Pembina.
Perlu Pembaharuan
Untuk itulah sudah saatnya Gerakan Pramuka melakukan kajian mengenai usaha meningkatkan relevansi pendidikannya, utamanya menyesuaikan materi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan perubahan jaman dan kebutuhan masyarakat. Usaha itu adalah upaya untuk menarik minat para anak dan remaja agar tertarik pada pendidikan kepramukaan.
Usaha melakukan pembaharuan materi dan metode pembelajaran itu kiranya tidak akan bertentangan dengan ide dasar Baden Powell tentang pendidikan kepanduan atau kepramukaan. Baden Powell kepada para Pembina, dalam bukunya Penolong untuk Pemimpin Pandu, menyatakan bahwa dalam pendidikan kepanduan bukan isi pelajarannya yang terpenting tetapi cara-caranya. Menurut Baden Powell pendidikan kepanduan/kepramukaan adalah suatu sistem pendidikan yang membimbing anak dan remaja untuk melahirkan segala sesuatu secara benar, menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, memberikan kesempatan pada perkembangan inisiatif, kedisiplinan diri, percaya diri dan menentukan tujuan sendiri.
Dari pernyataan Baden Powell tersebut tersirat bahwa pendidikan kepramukaan memiliki sifat universal dalam perspektif tempat maupun waktu. Pemahaman keuniversalan pendidikan kepramukaan selama ini hanyalah pada perspektif tempat saja, artinya pendidikan kepramukaan dapat dipergunakan dimana saja untuk mendidik anak dan remaja dari bangsa di seluruh muka bumi. Pemahaman keuniversalan yang sempit inilah mengakibatkan kemandegan pengembangan pendidikan kepramukaan.
Pada perspektif kekinian dan ke depan usaha pembinaan kepribadian dan watak generasi muda melalui pendidikan kepramukaan tidak akan cukup hanya memperkenal¬kan kepada mereka keterampilan semaphore, morse, dan tali temali sementara nilai dan norma sosial yang berkembang di masyarakat telah diwarnai dengan suasana teknologi yang serba canggih. Justru pada perspektif kekinian dan ke depan pendidikan kepramukaan harus mampu mengemas materi dan metode pembelajarannya yang disesuaikan dengan permasalahan aktual yang sedang dihadapi dan tantangan yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia.
Merosotnya Mutu
Di samping masalah ketertinggalan materi dan metode pembelajaran pendidikan kepramukaan dengan perkembangan jaman, faktor lainnya adalah merosotnya mutu proses pendidikan kepramukaan itu sendiri. Merosotnya mutu proses pendidikan kepramukaan ditandai dengan kesalahan penerapan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan. Keadaan itu dapat terjadi karena kualitas Pembina sebagian besar belum memadai. Salah satu indikator hasil proses pendidikan kepramukaan yang berkualitas dapat dilihat pada seberapa banyak peserta didik yang mampu dilantik (lulus ujian SKU) dan sejauhmana mutu peserta didik yang dilantik itu. Dengan tidak mengecilkan arti data yang masuk ke Kwartir Cabang/Daerah/Nasional, kita dapat melihat banyak peserta didik yang mengenakan seragam Pramuka tanpa dilengkapi dengan tanda kecakapan umum. Padahal bagi seorang Pramuka tanda kecakapan umum merupakan suatu penghargaan atas prestasi belajar dan usahanya. Hal ini menandakan bahwa pada aspek kuantitas saja hasil proses pendidikan kepramukaan belum memadai karena tidak mampu memotivasi peserta pendidikan kepramukaan untuk berprestasi dan berusaha.
Rendahnya kualitas proses pendidikan kepramukaan serta rendahnya jumlah Pembina Pramuka yang bermutu menyebabkan peserta didik menjadi bosan sehingga meninggalkan pendidikan kepramukaan dan mencari bentuk ekstra kurikuler atau aktivitas di luar sekolah yang menurutnya lebih menarik dan dapat menampung jiwa serta aspirasi remaja yang saat ini sedang berkembang.
Karena itulah Gerakan Pramuka harus melakukan mawas diri, yang terpenting pada usia yang sudah cukup matang ini diharapkan para Pembina Pramuka dan Pelatih Pembina Pramuka menyikapi pendidikan kepramukaan dengan perspektif keuniversalan yang kekinian dan ke depan. Diharapkan dengan sikap itu kita tidak canggung lagi dalam mengadakan koreksi dan pembaharuan pendidikan kepramukaan agar tetap menarik di hati para generasi muda. Dengan demikian pendidikan kepramukaan tetap memiliki makna dalam usaha pembinaan generasi muda bangsa Indonesia. Semoga.
Rabu, 25 Maret 2009
kesepian
gundah hadir karena kepiluan hati..aku takut tak ada yang bisa temani hariku ini..sepi ku terhempas tanpa da yang mendengar kata hatiku.....
biarlah ini berjalan walau hatiku tak taju kemana......biar malam yang kan mengihiasi warna hati ni
dan tak ada bintang berkelip menemani lelapku.....ku lelah dengan kisah ini harapan yang kutanam tak pernah tumbuh dengan jalanku....
mengapa kau tak tahu aku sepii....aku sendiri..aku berlarii..walau jasad ku masih disini....

