Rabu, 23 Desember 2009
Selasa, 22 Desember 2009
BAB I
Pendahuluan
Keluarga sebagai salah satu miniatur masyarakat dalam skrup terkecil kehidupan umat manusia, memiliki peranan sangat penting dan berharga dalam membantu kelanjutan pendidikan dan pengembangan sumberdaya individu yang ada dalam dunia ini. Akan tetapi semua itu tidak terlepas dari berbagai rintangan dan hambatan yang terjadi dalam keluarga itu sendiri, karena keluarga pun pada dasarnya adalah sekelompok individu-individu yang terpisah yang disatukan oleh ikatan hubungan keluarga(suami-istri) yang menghasilkan individu-individu baru yang disebut anak, cucu dan lain sebagainya.
Dalam perkembangannya, keluarga memiliki peranan dan fungsi yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena keluarga adalah pendidikan dasar di mana anak yang akan menjadi bagian dari masyarkat, lahir, dibesarkan serta didik dengan gaya dan metode pendidikan keluarga itu sendiri.
Penulis dalam makalah ini mencoba untuk menyajikan beberapa study kasus dalam perkembangan fungsi dan peranan keluarga yang dinilai cukup penting untuk diperhatikan mengingat banyaknya masaalah-masalah dan kasus yang dialami oleh remaja akhir-akhir ini pada dasarnya tidak lain karena melemahnya fungsi keluarga dalam pranata sosial. Semoga study kasus dari kejadian tawuran SMK Negeri 8 Jakarta ini dapat dijadikan acuan bagi penulis khususnya dan kepada pembaca umumnya.
BAB II
II.I Pengertian Keluarga dan Fungsi-Fungsinya.
2.I. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit/satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Kelompok ini dalam hubungannya dengan individu sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat.
Keluarga sebagai kelompok pertama yang dikenal individu sangat berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan individu sebelum maupun sesudah terjun langsung secara individual dalam masyarakat.
2.II. Fungsi- Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan di dalam atau oleh keluarga itu.
2.III. MACAM-MACAM FUNGSI KELUARGA
a) Fungsi Biologis
Dengan fungsi ini diharapkan agar keluarga dapat menyelenggarakan persiapan-persiapan perkawinan bagi anak-anaknya. Persiapan perkawinan yang perlu dilakukan oleh orang-orang tua bagi anak-anaknya dapat berbentuk antara lain pengetahuan tantang kehidupan sex bagi suami istri, pengetahuan mengatur rumah tangga bagi sang istri, tugas dan kewajiban bagi suami, memelihara pendidikan bagi anaak-anak dan lain-lain.
Dengan persiapan deperti ini dapat terbentuk keluarga yang harmonis dan berpengaruh baik bagi kehidupan bermasyarakat.
Contoh: Sebelum Sang anak menikah, dengan fungsi biologisnya, keluarga diharapkan dapat memberikan pendidikan kekeluargaan yang matang untuk membina rumah tangga dalam berbagai hal. Seperti dalam pendidikan ekonomi keluarga, sosial keluarga, hubungan suami istri dan lain- lain.
b) Fungsi Pemeliaharaan
Keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggotanya terlindung dari gangguan-gangguan sebagai berikut :
1) gangguan udara dengan berusaha menyediakan rumah;
2) gangguan penyakit dengan menyediakan obat-obatan;
3) gangguan bahaya dengan berusaha menyediakan senjata, pagar tembok dan lain-lain.
Contoh: Sebagai benteng pertahanan keluarga harus mampu melindungi anggotanya, dalam hal ini sang bapak sebagai kepala keluarga harus mampu mejaga dan membekali anggota keluarganya dengan berbagai macam persiapan dan fasilitas agar seluruh anggota keluarga tetap aman terjaga. Dengan cara, memberikan perlindungan dengan membekali pendidikan anti bahaya ( seni bela diri) atau menyediakan pelayanan seperti antar jemput bagi anak perempuan dan berbagai contoh perlindungan lainnya.
c) Fungsi Ekonomi
Keluarga barusaha menyelenggarakan kebutuhan manusia yang pokok yaitu :
1) Kebutuhan makan dan minum
2) Kebutuhan pakaian untuk menutup tubuhnya
3) Kebutuhan tempat tinggal.
Contoh; Sang bapak menafkahi anggota keluarganya atau memberikan uang jajan kepada anak-anaknya serta memeberikan uang belanja bagi ibu rumah tangganya.
d) Fungsi Keagamaan
Dengan dasar pedoman ini keluarga diwajibkan untuk menjalani dan mendalami serta mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam pelakunya sebagai manusia yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Contoh: Orang tua memberikan dan mengajarkan pendidikan agama yang baik kepada anak-anaknya dengan mengajari agama di rumah atau mengantarkan mereka ketempat keagamaan.
e) Fungsi Sosial
Dengan fungsi ini keluarga berusaha untuk mempersiapkan anak-anaknya bekal-bekal selengkapnya dengan memperkenalkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan-peranan yang diharapkan akan mereka jalankan kelak bila sudah dewasa yag disebut sosialisasi. Dalam fungsi ini juga harus ada pewarisan kebudayaan dan nilai-nilainya, misalnya : sopan santun, bahasa, cara bertingkah laku, ukuran tentang baik buruknya perbuatan dan lain-lain. Dengan melalui nasihat dan larangan, orang tua menyampaikan norma-norma hidup tertentu dalam bertingkah laku.
Dalam buku Ilmu Sosial Dasar karangan Drs. Soewaryo Wangsanegara dikatakan bahwa fungsi-fungsi keluarga meliputi :
a) Pembentukkan kepribadian; dalam lingkungan keluarga, para orang tua meletakkan dasar-dasar kepribadiankepada anak-anaknya, dengan tujuan untuk memproduksikan serta melestarikan kepribadian mereka kepada anak cucu dan keturunannya.
b) Erat kaitannya dengan butir, keluarga juga berfungsi sebagai alat reproduksi kepribadian-kepribadian yang berakar dari etika, estetika, moral, keagamaan, dan kebudayaan yang berkorelasi fungsional dengan sebuah struktur masyarakat tertentu.
c) Keluarga merupakan eksponen dari kebudayaan masyarakat, karena menempati posisi kunci. Keluarga adalah sebagai jenjang dan perantara pertama dalam transmisi kebudayaan.
d) Keluarga berfungsi sebagai lembaga perkumpulan perekonomian. Pada kelompok-keliompok masyarakat modern perkonomian berkembang sangat pesat. Namun ikatan-ikatan kekeluargaan masih terjalin kuat dan sering memengaruhi atau menguasai bidang perekonomian mereka.
e) Keluarga berfungsi sebagai pusat pengasuhan dan pendidikan.
F) Fungsi Institusi
Keluarga sebagai salah satu institusi pendidikan non formal, memiliki berbagai macam peranan yang seharusnya bisa dioptimalkan untuk pengembangan individu. Adapun pengertian fungsi keluarga sebagai institusi adalah: keluarga sebagai lembaga non formal di luar sekolah mampu menjadi pengganti pendidkan formal bagi anak atau individu-individu, sekaligus sebagai pembantu proses pembentukan pendidikan anak di luar sekolah.
Abdul Wahab Khallaf juga menyampaikan bahwa Keluarga adalah sebuah institusi yang minimal memiliki 6 fungsi, yaitu;
1. Fungsi religius, adalah peran keluarga yang dapat memberikan pengalaman keagamaan bagi anggotanya.
2. Fungsi afektif, peran keluarga dalam memberikan kasih sayang dan melahirkan keturunan.
3. Fungsi sosial, adalah keluarga dapat memberikan prestis dan status kepada semua anggotanya.
4. Fungsi edukatif, adalah peran keluarga sebagai media belajar bagi anggota keluarga.
5. Fungsi protektif adalah peran keluarga sebagai pelindung bagi anggotanya dari ancaman fisik, ekonomis, dan psiko-sosial.
6. Fungsi rekreatif adalah bagaimana menjadikan keluarga sebagai wahana yang menyenangkan bagi anggotanya.
2.IV. Melemahnya Fungsi Dan Peranan Keluarga Sebagai Kontrol Terhadap Pergaulan Anak
( Study Kasus Tawuran SMK Negeri 8 Jakarta)
Dewasa ini, anak-anak sebagai individu penerus bangsa memiliki peranan yang dinilai cukup penting mengingat generasi mudalah yang nanti akan meneruskan kehidupan dan masa depan bangsa ini.anak-anak yang tumbuh dari keluarga seharusnya bisa memberikan kontribusi yang luar biasa dengan dunia mereka, baik itu dari dunia pendidikan formal(sekolah) ataupun dunia pendidikan informal (Keluarga). Akan tetapi secara mendasar, keluarga sebagai control tools (alat control) terhadap perkembangan anak bisa berkontribusi lebih besar lagi kepada perkembangan individu atau anak-anak. Hal ini dikarenakan kehidupan individu atau anak lebih banyak dihabiskan dikeluarga mereka dibandingkan di dunia pendidikan formal mereka (sekolah).
Namun, pada kenyataannya sekolah sebagai lingkungan kedua bagi individu atau anak-anak justru berdampak dan memberikan pengaruh yang cukup besar kepada individu atau anak setelah kehidupan keluarga dan sosial mereka ( Masyarakat).pada bab ini ,penulis akan mencoba memaparkan apa sebenarnya yang menyebabkan melemahnya peranan dan fungsi keluarga bagi individu atau anak dalam pranata masyarakat luas.
2. V. Pengaruh Lingkungan dan sekolah Terhadap Anak
Lingkungan yang menjadi tempat bermain anak-anak memberikan dampak yang cukup luas dan besar bagi perkembangan watak anak-anak, karena dari lingkungan lah anak dapat melihat kedaan yang lebih luas dan lebih besar dari pada keluarganya. Bila dirumah ( keluarga) sang anak hanya berjumpa dan bergaul dengan anggota keluarganya (ayah,ibu,kakak atau adik) maka di lingkungan tempat ia bermain sang anak akan bersosialisasi dengan individu-individu yang lebih banyak dan beraneka ragam sifatnya. Hal ini akan memberikan aspek sense (rasa) yang berbeda kepada sang anak. Bila dirumah sang anak harus bergaul dengan sopan dengan anggotanya maka diluar justru sang anak akan bersosialisasi dengan gayanya sendiri tanpa ada control dari keluarganya, maka dalam hal ini sang anak harus mampu mengontrol dirinya dan menjadikan apa yang telah diajarkan keluarganya sebagai kontrol sosial.
Sekolah yang mejadi institusi pendidikan formal bagi anak juga memiliki peranan yang sama penting setelah keluarga. Karena dengan apa yang mereka dapat dari sekolah lah sang anak mampu menjadikan dirinya control ketika bersosialisasi dengan masyarakat yang lebih luas.
Dalam study kasus terhadap kejadian tawuran di SMK NEGERI 8 Jakarta seharusnya kita dapat melihat apa yang sebenarnya menjadi pemicu kejadian tawuran tersebut. Apakah melemahnya fungsi keluarga berada di belakangnya atau tidak?. Sekolah yang seharusnya memberikan pendidikan yang formalpun terkadang tidak mampu memberikan kontrol maksimal terhadap pergaulan anak. Karena tidak jarang kita temui banyak anak-anak sekolah pada masa ini yang malah membuat kenakalan di dalam sekolah mereka sendiri. Apa sebenarnya yang terjadi terhadap pendidikan formal tidak lain disebabkan karena sistem pendidikan yang terlalu mengekang hak anak yang seharusnya ia dapatkan lewat pendidikan formalnya.
2.VI. Analisis Kasus Tawuran SMK NEGERI 8 Jakarta.
Kenakalan remaja merupakan tantangan yang harus bisa diselesaikan oleh keluarga sebagai alat kontrol pribadi anak dan juga sekolah yang merupakan kontrol sosial. Kasus tawuran yang terjadi di SMK NEGERI 8 Jakarta merupakan salah satu bukti bahwa terkadang keluarga dan sekolah tak mampu berperan banyak dalam pembentukan watak anak karena terhambat oleh pergaulan sosial atau lingkungan. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh keluarga dan sekolah dalam menyikapi hal ini?.
Tawuran antara Pelajar SMK Negeri 8 Jakarta dengan pelajar lainnya bisa kita jadikan telah kepada sistem pendidikan keluarga dan sekolah sebagai pembentukan watak dan pribadi anak terhadap lingkungannya.
Dalam perkara tawuran SMK Negeri 8 Jakarta, anak-anak yang bertikai dalam tawuran, secara pribadi di dorong oleh kemauan komulatif dari kelompok tempat mereka bergaul dan bermain. Karena dari kelompok atau yang lebih dikenal dengan “genk” inilah mereka mendapatkan satu dunia baru yang mungkin mereka rasa nyaman dan hebat walaupun tidak sesuai dengan kemauan mereka sendiri. Hal ini pun di dorong karena adanya ketidak seriusan dari keluarga dan sekolah dalam memberikan pendidikan yang baik dan bagus kepada anak-anak didiknya. Mari kita telaah bersama petikan berita yang disajikan oleh liputan 6 SCTV di media mayanya :
“Perkelahian yang melibatkan pelajar SMK PGRI 8 bukan kasus baru. Padahal, tawuran mereka telah banyak menelan korban luka. Bahkan rekan mereka, Abdillah, sempat koma dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit setelah sebutir peluru bersarang di kepalanya. Peristiwa itu terjadi di daerah Jatinegara, Jaktim, beberapa waktu silam [baca: Abdillah Tersungkur Diterjang Peluru]. Insiden penembakan terjadi saat berlangsung tawuran antara siswa SMK PGRI 8 Jaktim dan sekelompok pelajar dari sekolah lain. Sayangnya, sampai saat ini, belum diketahui pasti asal peluru yang bersarang di kepala Abdillah.”
Dari petikan berita di atas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa sesungguhnya apa yang terjadi terhadap generasi muda kita sekarang ini tidak lain dan tidak bukan hanya karena lemahnya kontrol dan fungsi keluarga serta sekolah dalam memberikan pendidikan terhadap individu-individu bangsa. Hal ini pun mengakibatkan kejadian semacam tawuran tersebut berulang kali terjadi di dunia anak-anak.
Maka dari itu dari permasalahan-permasalahan yang ada sudah selayaknya kita semua sebagai pelaku prana sosial kembali mengontrol dan meluruskan peranan dan fungsi keluarga dalam pembentukan watak dan pribadi anak bangsa.
BAB III
III.I Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dari makalah ini maka penulis memeberikan beberapa catatan yang mungkin dianggap bermanfaat bagi para keluarga dan pendidik yang bisa dijadikan bahan pertimbangan.
Keluarga sebagai wadah pembentukan watak dan pribadi individu-individu harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan benar agar tidak terjadi ketimpangan di masa-masa selanjutnya:
1. Peningkatan fungsi-fungsi keluarga yang penting bagi individu- individu seperti Fungsi Keagaman: Keluarag harus mampu menekankan kepada anak-anaknya agar sadar betul akan pentingnya agama bagi kehidupan bermasyarakat guna terciptanya kehidupan yang harmonis
2. Peningkatan Fungsi Pemeliharaan: Keluarga Harus mampu menekankan dan memberikan arahan yang baik kepada anak-naknya tentang hal-hal yang dianggap merugikan atau tidak serta menjaga dan memberikan perlindungan kepada mereka dari hal-hal yang membahayakan mereka. Bila si individu tetap terjangkit penyakit lingkungan atau sekolah yang mempengaruhinya, maka keluarga harus mampu bersikap representatif kepada anak-anaknya dengan alasan untuk mempertahankan dan menjaga keamanan dan menciptakan kebaikan bagi mereka.
3. Peningkatan fungsi sosial: Keluarga mampu memberikan kontrol yang besar kepada anak-anaknya dalam pergaulan sehari-hari, menjaga si individu agar terjauhkan dari prana masyarakat yang kurang baik dan dapat memperkeruh watak mereka.
4. Peningkatan Fungsi Institusi: adapun peningkatan fungsi ini dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan fungsi-fungsi lainnya.
5. Peningkatan Fungsi Ekonomi: Keluarga mampu memberikan pelayanan secara baik kepada anak-anaknya mengenai kebutuhan-kebutuhan yang harus mereka dapatkan sebagai anak. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi maka sudah selayaknya keluarga dapat memberikan pengertian-pengertian dan arahan-arahan yang dapat membuat mereka mengerti keadaan apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga.
6. Peningkatan fungsi biologis : Keluarga mampu memberikan penekanan kepada anak-anaknya bahwa apa yang mereka jalani dalam kehidupan merupakan awal dari kehidupan mereka selanjutnya ketika mereka berkeluarga nanti, maka dari itu dengan hal ini sang anak diharapkan mampu mengarahkan dirinya kepada arah yang lebih baik.
Di akhir makalah ini penulis mengharapkan apa yang telah disampaikan berguna dan bermanfaat bagi penulis khusunya dan para pembaca umunya. Semoga keluarga tetap mampu meberikan peranan yang baik dalam pendidikan anak-anak di masa kini.
Kurang dan lebihnya penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya
Pendahuluan
Keluarga sebagai salah satu miniatur masyarakat dalam skrup terkecil kehidupan umat manusia, memiliki peranan sangat penting dan berharga dalam membantu kelanjutan pendidikan dan pengembangan sumberdaya individu yang ada dalam dunia ini. Akan tetapi semua itu tidak terlepas dari berbagai rintangan dan hambatan yang terjadi dalam keluarga itu sendiri, karena keluarga pun pada dasarnya adalah sekelompok individu-individu yang terpisah yang disatukan oleh ikatan hubungan keluarga(suami-istri) yang menghasilkan individu-individu baru yang disebut anak, cucu dan lain sebagainya.
Dalam perkembangannya, keluarga memiliki peranan dan fungsi yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena keluarga adalah pendidikan dasar di mana anak yang akan menjadi bagian dari masyarkat, lahir, dibesarkan serta didik dengan gaya dan metode pendidikan keluarga itu sendiri.
Penulis dalam makalah ini mencoba untuk menyajikan beberapa study kasus dalam perkembangan fungsi dan peranan keluarga yang dinilai cukup penting untuk diperhatikan mengingat banyaknya masaalah-masalah dan kasus yang dialami oleh remaja akhir-akhir ini pada dasarnya tidak lain karena melemahnya fungsi keluarga dalam pranata sosial. Semoga study kasus dari kejadian tawuran SMK Negeri 8 Jakarta ini dapat dijadikan acuan bagi penulis khususnya dan kepada pembaca umumnya.
BAB II
II.I Pengertian Keluarga dan Fungsi-Fungsinya.
2.I. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit/satuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Kelompok ini dalam hubungannya dengan individu sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat.
Keluarga sebagai kelompok pertama yang dikenal individu sangat berpengaruh secara langsung terhadap perkembangan individu sebelum maupun sesudah terjun langsung secara individual dalam masyarakat.
2.II. Fungsi- Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan di dalam atau oleh keluarga itu.
2.III. MACAM-MACAM FUNGSI KELUARGA
a) Fungsi Biologis
Dengan fungsi ini diharapkan agar keluarga dapat menyelenggarakan persiapan-persiapan perkawinan bagi anak-anaknya. Persiapan perkawinan yang perlu dilakukan oleh orang-orang tua bagi anak-anaknya dapat berbentuk antara lain pengetahuan tantang kehidupan sex bagi suami istri, pengetahuan mengatur rumah tangga bagi sang istri, tugas dan kewajiban bagi suami, memelihara pendidikan bagi anaak-anak dan lain-lain.
Dengan persiapan deperti ini dapat terbentuk keluarga yang harmonis dan berpengaruh baik bagi kehidupan bermasyarakat.
Contoh: Sebelum Sang anak menikah, dengan fungsi biologisnya, keluarga diharapkan dapat memberikan pendidikan kekeluargaan yang matang untuk membina rumah tangga dalam berbagai hal. Seperti dalam pendidikan ekonomi keluarga, sosial keluarga, hubungan suami istri dan lain- lain.
b) Fungsi Pemeliaharaan
Keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggotanya terlindung dari gangguan-gangguan sebagai berikut :
1) gangguan udara dengan berusaha menyediakan rumah;
2) gangguan penyakit dengan menyediakan obat-obatan;
3) gangguan bahaya dengan berusaha menyediakan senjata, pagar tembok dan lain-lain.
Contoh: Sebagai benteng pertahanan keluarga harus mampu melindungi anggotanya, dalam hal ini sang bapak sebagai kepala keluarga harus mampu mejaga dan membekali anggota keluarganya dengan berbagai macam persiapan dan fasilitas agar seluruh anggota keluarga tetap aman terjaga. Dengan cara, memberikan perlindungan dengan membekali pendidikan anti bahaya ( seni bela diri) atau menyediakan pelayanan seperti antar jemput bagi anak perempuan dan berbagai contoh perlindungan lainnya.
c) Fungsi Ekonomi
Keluarga barusaha menyelenggarakan kebutuhan manusia yang pokok yaitu :
1) Kebutuhan makan dan minum
2) Kebutuhan pakaian untuk menutup tubuhnya
3) Kebutuhan tempat tinggal.
Contoh; Sang bapak menafkahi anggota keluarganya atau memberikan uang jajan kepada anak-anaknya serta memeberikan uang belanja bagi ibu rumah tangganya.
d) Fungsi Keagamaan
Dengan dasar pedoman ini keluarga diwajibkan untuk menjalani dan mendalami serta mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam pelakunya sebagai manusia yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Contoh: Orang tua memberikan dan mengajarkan pendidikan agama yang baik kepada anak-anaknya dengan mengajari agama di rumah atau mengantarkan mereka ketempat keagamaan.
e) Fungsi Sosial
Dengan fungsi ini keluarga berusaha untuk mempersiapkan anak-anaknya bekal-bekal selengkapnya dengan memperkenalkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan-peranan yang diharapkan akan mereka jalankan kelak bila sudah dewasa yag disebut sosialisasi. Dalam fungsi ini juga harus ada pewarisan kebudayaan dan nilai-nilainya, misalnya : sopan santun, bahasa, cara bertingkah laku, ukuran tentang baik buruknya perbuatan dan lain-lain. Dengan melalui nasihat dan larangan, orang tua menyampaikan norma-norma hidup tertentu dalam bertingkah laku.
Dalam buku Ilmu Sosial Dasar karangan Drs. Soewaryo Wangsanegara dikatakan bahwa fungsi-fungsi keluarga meliputi :
a) Pembentukkan kepribadian; dalam lingkungan keluarga, para orang tua meletakkan dasar-dasar kepribadiankepada anak-anaknya, dengan tujuan untuk memproduksikan serta melestarikan kepribadian mereka kepada anak cucu dan keturunannya.
b) Erat kaitannya dengan butir, keluarga juga berfungsi sebagai alat reproduksi kepribadian-kepribadian yang berakar dari etika, estetika, moral, keagamaan, dan kebudayaan yang berkorelasi fungsional dengan sebuah struktur masyarakat tertentu.
c) Keluarga merupakan eksponen dari kebudayaan masyarakat, karena menempati posisi kunci. Keluarga adalah sebagai jenjang dan perantara pertama dalam transmisi kebudayaan.
d) Keluarga berfungsi sebagai lembaga perkumpulan perekonomian. Pada kelompok-keliompok masyarakat modern perkonomian berkembang sangat pesat. Namun ikatan-ikatan kekeluargaan masih terjalin kuat dan sering memengaruhi atau menguasai bidang perekonomian mereka.
e) Keluarga berfungsi sebagai pusat pengasuhan dan pendidikan.
F) Fungsi Institusi
Keluarga sebagai salah satu institusi pendidikan non formal, memiliki berbagai macam peranan yang seharusnya bisa dioptimalkan untuk pengembangan individu. Adapun pengertian fungsi keluarga sebagai institusi adalah: keluarga sebagai lembaga non formal di luar sekolah mampu menjadi pengganti pendidkan formal bagi anak atau individu-individu, sekaligus sebagai pembantu proses pembentukan pendidikan anak di luar sekolah.
Abdul Wahab Khallaf juga menyampaikan bahwa Keluarga adalah sebuah institusi yang minimal memiliki 6 fungsi, yaitu;
1. Fungsi religius, adalah peran keluarga yang dapat memberikan pengalaman keagamaan bagi anggotanya.
2. Fungsi afektif, peran keluarga dalam memberikan kasih sayang dan melahirkan keturunan.
3. Fungsi sosial, adalah keluarga dapat memberikan prestis dan status kepada semua anggotanya.
4. Fungsi edukatif, adalah peran keluarga sebagai media belajar bagi anggota keluarga.
5. Fungsi protektif adalah peran keluarga sebagai pelindung bagi anggotanya dari ancaman fisik, ekonomis, dan psiko-sosial.
6. Fungsi rekreatif adalah bagaimana menjadikan keluarga sebagai wahana yang menyenangkan bagi anggotanya.
2.IV. Melemahnya Fungsi Dan Peranan Keluarga Sebagai Kontrol Terhadap Pergaulan Anak
( Study Kasus Tawuran SMK Negeri 8 Jakarta)
Dewasa ini, anak-anak sebagai individu penerus bangsa memiliki peranan yang dinilai cukup penting mengingat generasi mudalah yang nanti akan meneruskan kehidupan dan masa depan bangsa ini.anak-anak yang tumbuh dari keluarga seharusnya bisa memberikan kontribusi yang luar biasa dengan dunia mereka, baik itu dari dunia pendidikan formal(sekolah) ataupun dunia pendidikan informal (Keluarga). Akan tetapi secara mendasar, keluarga sebagai control tools (alat control) terhadap perkembangan anak bisa berkontribusi lebih besar lagi kepada perkembangan individu atau anak-anak. Hal ini dikarenakan kehidupan individu atau anak lebih banyak dihabiskan dikeluarga mereka dibandingkan di dunia pendidikan formal mereka (sekolah).
Namun, pada kenyataannya sekolah sebagai lingkungan kedua bagi individu atau anak-anak justru berdampak dan memberikan pengaruh yang cukup besar kepada individu atau anak setelah kehidupan keluarga dan sosial mereka ( Masyarakat).pada bab ini ,penulis akan mencoba memaparkan apa sebenarnya yang menyebabkan melemahnya peranan dan fungsi keluarga bagi individu atau anak dalam pranata masyarakat luas.
2. V. Pengaruh Lingkungan dan sekolah Terhadap Anak
Lingkungan yang menjadi tempat bermain anak-anak memberikan dampak yang cukup luas dan besar bagi perkembangan watak anak-anak, karena dari lingkungan lah anak dapat melihat kedaan yang lebih luas dan lebih besar dari pada keluarganya. Bila dirumah ( keluarga) sang anak hanya berjumpa dan bergaul dengan anggota keluarganya (ayah,ibu,kakak atau adik) maka di lingkungan tempat ia bermain sang anak akan bersosialisasi dengan individu-individu yang lebih banyak dan beraneka ragam sifatnya. Hal ini akan memberikan aspek sense (rasa) yang berbeda kepada sang anak. Bila dirumah sang anak harus bergaul dengan sopan dengan anggotanya maka diluar justru sang anak akan bersosialisasi dengan gayanya sendiri tanpa ada control dari keluarganya, maka dalam hal ini sang anak harus mampu mengontrol dirinya dan menjadikan apa yang telah diajarkan keluarganya sebagai kontrol sosial.
Sekolah yang mejadi institusi pendidikan formal bagi anak juga memiliki peranan yang sama penting setelah keluarga. Karena dengan apa yang mereka dapat dari sekolah lah sang anak mampu menjadikan dirinya control ketika bersosialisasi dengan masyarakat yang lebih luas.
Dalam study kasus terhadap kejadian tawuran di SMK NEGERI 8 Jakarta seharusnya kita dapat melihat apa yang sebenarnya menjadi pemicu kejadian tawuran tersebut. Apakah melemahnya fungsi keluarga berada di belakangnya atau tidak?. Sekolah yang seharusnya memberikan pendidikan yang formalpun terkadang tidak mampu memberikan kontrol maksimal terhadap pergaulan anak. Karena tidak jarang kita temui banyak anak-anak sekolah pada masa ini yang malah membuat kenakalan di dalam sekolah mereka sendiri. Apa sebenarnya yang terjadi terhadap pendidikan formal tidak lain disebabkan karena sistem pendidikan yang terlalu mengekang hak anak yang seharusnya ia dapatkan lewat pendidikan formalnya.
2.VI. Analisis Kasus Tawuran SMK NEGERI 8 Jakarta.
Kenakalan remaja merupakan tantangan yang harus bisa diselesaikan oleh keluarga sebagai alat kontrol pribadi anak dan juga sekolah yang merupakan kontrol sosial. Kasus tawuran yang terjadi di SMK NEGERI 8 Jakarta merupakan salah satu bukti bahwa terkadang keluarga dan sekolah tak mampu berperan banyak dalam pembentukan watak anak karena terhambat oleh pergaulan sosial atau lingkungan. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh keluarga dan sekolah dalam menyikapi hal ini?.
Tawuran antara Pelajar SMK Negeri 8 Jakarta dengan pelajar lainnya bisa kita jadikan telah kepada sistem pendidikan keluarga dan sekolah sebagai pembentukan watak dan pribadi anak terhadap lingkungannya.
Dalam perkara tawuran SMK Negeri 8 Jakarta, anak-anak yang bertikai dalam tawuran, secara pribadi di dorong oleh kemauan komulatif dari kelompok tempat mereka bergaul dan bermain. Karena dari kelompok atau yang lebih dikenal dengan “genk” inilah mereka mendapatkan satu dunia baru yang mungkin mereka rasa nyaman dan hebat walaupun tidak sesuai dengan kemauan mereka sendiri. Hal ini pun di dorong karena adanya ketidak seriusan dari keluarga dan sekolah dalam memberikan pendidikan yang baik dan bagus kepada anak-anak didiknya. Mari kita telaah bersama petikan berita yang disajikan oleh liputan 6 SCTV di media mayanya :
“Perkelahian yang melibatkan pelajar SMK PGRI 8 bukan kasus baru. Padahal, tawuran mereka telah banyak menelan korban luka. Bahkan rekan mereka, Abdillah, sempat koma dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit setelah sebutir peluru bersarang di kepalanya. Peristiwa itu terjadi di daerah Jatinegara, Jaktim, beberapa waktu silam [baca: Abdillah Tersungkur Diterjang Peluru]. Insiden penembakan terjadi saat berlangsung tawuran antara siswa SMK PGRI 8 Jaktim dan sekelompok pelajar dari sekolah lain. Sayangnya, sampai saat ini, belum diketahui pasti asal peluru yang bersarang di kepala Abdillah.”
Dari petikan berita di atas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa sesungguhnya apa yang terjadi terhadap generasi muda kita sekarang ini tidak lain dan tidak bukan hanya karena lemahnya kontrol dan fungsi keluarga serta sekolah dalam memberikan pendidikan terhadap individu-individu bangsa. Hal ini pun mengakibatkan kejadian semacam tawuran tersebut berulang kali terjadi di dunia anak-anak.
Maka dari itu dari permasalahan-permasalahan yang ada sudah selayaknya kita semua sebagai pelaku prana sosial kembali mengontrol dan meluruskan peranan dan fungsi keluarga dalam pembentukan watak dan pribadi anak bangsa.
BAB III
III.I Kesimpulan
Sebagai kesimpulan dari makalah ini maka penulis memeberikan beberapa catatan yang mungkin dianggap bermanfaat bagi para keluarga dan pendidik yang bisa dijadikan bahan pertimbangan.
Keluarga sebagai wadah pembentukan watak dan pribadi individu-individu harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan benar agar tidak terjadi ketimpangan di masa-masa selanjutnya:
1. Peningkatan fungsi-fungsi keluarga yang penting bagi individu- individu seperti Fungsi Keagaman: Keluarag harus mampu menekankan kepada anak-anaknya agar sadar betul akan pentingnya agama bagi kehidupan bermasyarakat guna terciptanya kehidupan yang harmonis
2. Peningkatan Fungsi Pemeliharaan: Keluarga Harus mampu menekankan dan memberikan arahan yang baik kepada anak-naknya tentang hal-hal yang dianggap merugikan atau tidak serta menjaga dan memberikan perlindungan kepada mereka dari hal-hal yang membahayakan mereka. Bila si individu tetap terjangkit penyakit lingkungan atau sekolah yang mempengaruhinya, maka keluarga harus mampu bersikap representatif kepada anak-anaknya dengan alasan untuk mempertahankan dan menjaga keamanan dan menciptakan kebaikan bagi mereka.
3. Peningkatan fungsi sosial: Keluarga mampu memberikan kontrol yang besar kepada anak-anaknya dalam pergaulan sehari-hari, menjaga si individu agar terjauhkan dari prana masyarakat yang kurang baik dan dapat memperkeruh watak mereka.
4. Peningkatan Fungsi Institusi: adapun peningkatan fungsi ini dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan fungsi-fungsi lainnya.
5. Peningkatan Fungsi Ekonomi: Keluarga mampu memberikan pelayanan secara baik kepada anak-anaknya mengenai kebutuhan-kebutuhan yang harus mereka dapatkan sebagai anak. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi maka sudah selayaknya keluarga dapat memberikan pengertian-pengertian dan arahan-arahan yang dapat membuat mereka mengerti keadaan apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga.
6. Peningkatan fungsi biologis : Keluarga mampu memberikan penekanan kepada anak-anaknya bahwa apa yang mereka jalani dalam kehidupan merupakan awal dari kehidupan mereka selanjutnya ketika mereka berkeluarga nanti, maka dari itu dengan hal ini sang anak diharapkan mampu mengarahkan dirinya kepada arah yang lebih baik.
Di akhir makalah ini penulis mengharapkan apa yang telah disampaikan berguna dan bermanfaat bagi penulis khusunya dan para pembaca umunya. Semoga keluarga tetap mampu meberikan peranan yang baik dalam pendidikan anak-anak di masa kini.
Kurang dan lebihnya penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya
Langganan:
Postingan (Atom)

